Bagikan
scoll top
 
goKampus

Ragam Bahasa Indonesia dan Bagaimana Cara Membedakan Variasi Bahasa

.
Bagikan

Siapa yang tak kenal bahasa? Sebagai media komunikasi yang setiap hari manusia lakukan untuk menyampaikan pesan atau informasi, rasanya nggak mungkin manusia dewasa yang tak berbahasa. Ini menyebabkan ragam bahasa sangat luas, termasuk di Indonesia. Kita bahas selengkapnya yuk!

Di Indonesia, ada 700 lebih bahasa daerah, tapi ragam bahasa yang kita bahas bukan bahasa daerah saja, melainkan yang ada dalam bahasa Indonesia. Inilah definisi “ragam bahasa” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring:

variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicaraan;

Kesimpulannya, ragam bahasa adalah bentuk bahasa yang bervariasi menurut konteks pemakaian. Konteks tersebut bisa berupa topik atau pembicaraan orang, hubungan antarpembicara, atau medium pembicaraan.

Misalnya saat kamu bicara dengan temanmu, penggunaan bahasa tentu saja akan berbeda dengan saat kamu berpidato dalam sebuah acara resmi. Bahasa yang kamu gunakan memang masih bahasa Indonesia, tapi sangat berbeda.

Ragam bahasa tidak berfungsi sebagai atribut tetap seorang pembicara. Inilah sebabnya terdapat perbedaan dengan dialek, yaitu varian dari sebuah bahasa yang berbeda-beda menurut kelompok pemakai atau wilayah penuturan.

Baca Juga: Seberapa Penting Etika Komunikasi Di Era Digital? Yuk, Cek Selengkapnya

Klasifikasi Ragam Bahasa Berdasarkan Konteks Pemakaian

Pertama adalah berdasarkan pokok pembicaraan, terdiri dari:

  • Undang-undang
  • Jurnalistik
  • Ilmiah
  • Sastra

Kedua, berdasarkan media pembicaraan, meliputi ragam lisan dan ragam tulis. Ragam lisan terdiri dari:

  • Cakapan
  • Pidato
  • Bahasa kuliah
  • Bahasa panggung

Sementara ragam tulis terdiri dari:

  • Teknis
  • Undang-undang
  • Catatan
  • Bahasa surat

Ada beberapa klasifikasi ragam bahasa berdasarkan hubungan sosial antara para pembicara, terdiri dari:

  • Bahasa resmi
  • Akrab
  • Agak resmi
  • Bahasa santai

Contoh dan Penggunaan dalam Keseharian

Agar bisa lebih jelas, mari kita bahas contoh dan penggunaannya dalam keseharian. Dalam sehari-hari, kamu pasti menggunakan bahasa lisan untuk mengobrol langsung, serta bahasa tulis untuk chatting atau menulis surel. 

Dari situ, kamu mungkin bisa memahami perbedaan ragam bahasa lisan dan tulisan. Inilah beberapa contoh perbedaannya.

  • Dalam ragam lisan, perlu adanya kehadiran lawan bicara. Dalam ragam tulisan, tak perlu ada lawan bicara.
  • Ragam lisan unsur tata bahasa biasanya tidak lengkap. Umumnya ragam tulisan punya unsur tata bahasa yang lengkap.
  • Ragam lisan terikat pada ruang dan waktu, sementara ragam tulisan tidak terikat ruang waktu.
  • Pengaruh ragam lisan datang dari pungtuasi, jeda, dan ritme suara. Sementara, pengaruh ragam tulisan berasal dari tanda baca/ejaan. 

Salah satu contoh ragam bahasa yang paling jelas perbedaannya adalah bahasa Indonesia berdasarkan cara pandang penutur. Umumnya, seorang penutur yang kompeten menguasai berbagai jenis ragam bahasa sehingga ia mampu menyesuaikan ragam yang dipakai dengan situasi dan tujuan berbahasa. 

Saat kamu ngobrol dengan teman sekelas tentu akan beda ketimbang saat kamu ngobrol dengan guru, dan akan beda lagi jika kamu bicara dalam lingkungan resmi dan terpelajar.

Baca Juga: 7 Tanda Pendengar yang Baik, Kamu Termasuk?

Contoh Berdasarkan Cara Pandang Penutur

  • Ragam dialek. Contohnya: “Gue udah nonton film itu.”
  • Ragam terpelajar. Contohnya: “Saya sudah menonton film itu.”
  • Ragam resmi. Contohnya: “Saya sudah menonton film tersebut.”
  • Ragam tak resmi. Contohnya: “Saya sudah nonton film itu.”

Kalimat yang jadi contoh sebetulnya sama saja, tapi akan jadi beda tergantung dengan ragam masing-masing. Dalam contoh ragam dialek, penutur bicara dengan dialek orang Jakarta. Biasanya, si penutur dengan lawan bicaranya sudah cukup akrab. 

Sementara, contoh kalimat dalam ragam terpelajar digunakan saat si penutur bicara dengan orang yang dihormati seperti seorang profesor, misalnya.

Ragam resmi dan ragam terpelajar terbilang mirip, tapi ragam resmi umumnya hanya digunakan dalam acara-acara resmi. Misalnya, saat seseorang akan berpidato. Terakhir, ragam tak resmi adalah tutur bahasa yang cukup sopan, tapi tak sampai taraf seperti terpelajar atau resmi. Contoh, saat penutur sedang bicara kepada teman sebayanya yang belum terlalu akrab. 

Ciri Ragam Bahasa Ilmiah

Ragam bahasa ilmiah memiliki ciri tersendiri dibanding lainnya. Sebuah tulisan formal berupa karya ilmiah seperti skripsi pastinya harus menggunakan bahasa baku yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). 

Dalam karya ilmiah, kita menggunakan ragam bahasa ilmiah untuk menyampaikan dan memaparkan teori, fakta di lapangan, konsep, dan prinsip. Sekilas memang mirip bahasa baku, tapi ragam bahasa ilmiah punya ciri-ciri tersendiri.

Agar kamu bisa menguasai ragam bahasa ilmiah, yuk pahami ciri-cirinya berdasarkan Jurnal Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Penulisan Artikel Bahasa oleh Eti Ramaniyar Dkk (2019:35-36).

1. Lugas

Segala sesuatu harus disampaikan secara langsung, tak berbelit-belit, dan tak menggunakan kalimat yang berbunga-bunga.

2. Mematuhi kaidah tata bahasa

Jika tata bahasamu ngawur, pembaca atau pendengar akan sulit memahami isi karya ilmiah yang kamu buat. Untuk itu, kamu harus mematuhi kaidah tata bahasa.

3. Efektif

Apa yang kamu ingin sampaikan, itulah yang harus bisa disampaikan dan diterima oleh pembaca atau pendengar.

4. Menggunakan kosakata yang tepat

Kosakata adalah perbendaharaan kata, dalam bahasa Inggris sebutannya vocabulary. Kamu harus menerapkan kosakata yang tepat agar pembaca atau pendengar dapat dengan mudah menerima karya ilmiah mudah.

5. Tidak Ambigu

Bagaimana orang mau memahami karya ilmiah jika karya tersebut menggunakan kalimat yang ambigu, alias menimbulkan makna ganda.

6. Bebas dari Kiasan

Ini kan karya ilmiah, bukan karya sastra. Jadi sebaiknya kamu tidak menggunakan kiasan dan bahasa sastrawi yang njelimet, kecuali jika kamu memang membahas soal sastra.

7. Mematuhi Persyaratan Penalaran

Kalimat-kalimat dalam sebuah karya ilmiah harus dapat diterima oleh nalar atau akal pikiran pembaca/pendengarnya. Namanya juga karya ilmiah, tentu kamu tak boleh menulis sesuatu yang tak masuk akal.

8. Mematuhi dan Menerapkan Kaidah 

Salah satu ciri ilmiah lainnya adalah menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku mengenai aturan ketatabahasaan.

Baca Juga: Berapa Sih Gaji Content Writer Freelance dan Full Time? Cek Yuk!

Ternyata cukup banyak pemahaman seputar keberagaman bahasa yang mesti kita pahami ya? Untuk mendalaminya, kamu bisa belajar seputar bahasa dengan mendaftarkan diri ke universitas-universitas bahasa terbaik yang bisa kamu pilih di goKampus di link ini.

Selain belajar dari bangku kuliah, kamu juga bisa mempelajari bahasa dengan menguasai teknik berbahasa yang baik yang bisa kamu pelajari dengan ikutan kelas online di goKampus dengan klik link di sini.

Kalau kamu ingin memilih kelas lain dan bingung apa yang ingin kamu pelajari terlebih dahulu, goKampus memilihkan 10 kelas rekomendasi terbaik setiap bulannya, loh. Siapa tahu dari 10 kelas yang bisa kamu lihat di link ini, ada yang sesuai dengan minat dan kebutuhanmu! Yuk #LearnBetterGoFaster bareng goKampus.

goKampus University

Daftar kuliah, satu jam diterima pakai goKampus!

Bisa pilih ratusan kampus swasta dalam dan luar negeri! Dapatkan cashback up to Rp 500.000,-